PELAIHARI NEWS – Minggu pagi di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta biasanya dipenuhi tawa, langkah kaki, dan semangat warga yang mengisi jalanan ibu kota.
Namun pagi ini, (8/6/2025), suasana sedikit berbeda. Ada pemandangan menarik ketika dua sosok pemimpin negeri, Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto dan Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), berlari santai bersama, menyatu dengan masyarakat.
Tanpa jarak, keduanya berbaur dengan warga, menyapa hangat, dan sesekali melempar canda.
Di sela langkah ringan mereka, terselip obrolan penuh makna—tentang olahraga, tentang persahabatan, dan juga tentang masa depan Kalimantan Selatan.
“Saya senang sekali bisa olahraga bareng Pak Bupati Rahmat. Selain beliau sahabat lama, semangatnya membangun daerah juga luar biasa,” ucap AHY sambil tersenyum.
Kehangatan pagi itu semakin terasa saat mereka membahas salah satu agenda besar yang akan digelar di Kabupaten Tanah Laut: Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Selatan 2025.
Rencananya, ajang empat tahunan ini akan dihelat pada bulan Oktober hingga November mendatang, dan Bupati Rahmat menyatakan kesiapan penuh daerahnya menjadi tuan rumah.
“Insya Allah kami siap. Ini bukan hanya soal pertandingan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat Tanah Laut bisa merasakan manfaatnya—dari ekonomi, hingga geliat pariwisata,” ungkap Rahmat, yang dikenal sebagai pemimpin dekat rakyat dan penggemar olahraga.
AHY pun tak ragu memberi dukungan. “Semoga sukses, Pak Bupati. Bukan hanya sebagai tuan rumah, tapi juga dalam prestasi. Saya yakin Tanah Laut bisa memberi kejutan,” tuturnya hangat.
Tanah Laut sendiri memang menyimpan banyak potensi. Dari pantai yang memikat hingga pegunungan yang memesona, Porprov 2025 diyakini akan menjadi momentum emas untuk mengenalkan kekayaan alam sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Minggu pagi itu bukan sekadar tentang lari pagi. Ia adalah tentang harapan, kerja sama, dan mimpi-mimpi besar yang dibangun lewat langkah kecil.
Di tengah denyut jantung ibu kota, ada asa yang dibawa pulang ke Tanah Laut—bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tentang kebersamaan, semangat, dan kemanusiaan. [Tataku]
