Foto : Hary Yadi di Tengah
Oleh: Ben
Di sebuah sudut kafe di Pelaihari, siang ini—Selasa, 1 September 2026—dipenuhi aroma kopi dan atmosfer keakraban khas dua kawan lama yang baru kembali bersua. Namun, ada satu teka-teki yang mengusik benak saya saat berhadapan dengan Harry Yadi.
Pria yang baru saja dipercaya memegang tongkat kemudi Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Tanah Laut ini membawa cerita unik sepulangnya dari Pulau Jawa. Bukan sekadar penerbangan singkat atau perjalanan biasa, ia rela melintasi jalur darat dan laut bersama rombongan sahabat-sahabat GP Ansor demi menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang berlangsung kemarin.
Langkah panjang itu menggelitik prasangka: Ngapain seorang nakhoda partai berlabel anak muda dan progresif jauh-jauh menempuh perjalanan darat dan laut demi muktamar ormas keagamaan terbesar, sementara ia bukan pengurus, dan kedua entitas ini tak punya jalinan struktural atau afiliasi resmi sama sekali? Apakah ini manuver mendadak “nge-NU”?
”Saya NU dari lahir,” sahut Harry santai, menyapu bersih keraguan yang mengudara.
“Secara struktural saya memang tidak terlibat di kepengurusan secara langsung, tapi secara historis, DNA saya ini NU tulen. Kakek dan nenek saya NU, dan sejak dulu amaliyah yang saya jalankan adalah ajaran para ulama sepuh NU.”
Bagi Harry, perjalanan menyeberangi lautan dan melintasi daratan bersama rekan-rekan Ansor menuju arena Muktamar di Tambakberas kemarin bukanlah sekadar gugatan identitas, melainkan panggilan jiwa untuk merawat tradisi dan menimba kearifan. Di tengah riuk-renyah dinamika perhelatan tersebut, ia hadir bukan untuk berpolitik praktis, melainkan untuk bersilaturahmi, menyerap energi spiritual, dan belajar dari kebesaran cara NU merawat umat dan bangsa.
Cangkir kopi di meja kami perlahan mengering, menandai berakhirnya diskusi hangat siang itu. Sebuah obrolan sederhana yang tidak hanya meluruskan prasangka, tetapi juga menegaskan satu hal: warna bendera politik boleh saja berbeda, namun akar tradisi dan nilai keumatan yang sudah mendarah daging akan selalu punya ruang bermakna untuk terus dirawat.
